October 18, 2021

  • Instagram

Modus Penyelundupan Ratusan Prosesor Bernilai Rp 1,8 Miliar, Ditempel di Sekujur Badan

Ilustrasi CPU yang berhasil diamankan Departemen Bea Cukai Hong Kong.

Kelangkaan komponen chipset untuk gadget dan komputer yang belakangan tengah melanda dunia memicu sejumlah orang untuk melakukan tindakan kriminal.

Pada pertengahan Juni lalu, seorang pengemudi truk tertangkap basah di jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau oleh pihak bea cukai setempat lantaran berupaya menyelundupkan 256 unit prosesor (CPU) merek Intel.

Truk yang ia kendarai sebenarnya tidak membawa ratusan CPU tersebut, namun CPU selundupan itu ditempelkan di sekujur tubuh si sopir, seperti di dada dan di kedua betis kaki.

Adapun prosesor yang hendak diselundupkan berjenis Intel Core i7-10700 dan Core i9-10900K. Nilai banderol totalnya ditaksir mencapai 800.000 yuan atau sekitar Rp 1,8 miliar. Sepuluh hari setelah kasus tersebut, tepatnya 26 Juni lalu, pihak bea cukai kembali memergoki oknum yang ingin menyelundupkan sekitar 52 unit CPU bermerek Intel di area yang sama.

Baca juga:   CPU Intel 10nm Tiger Lake Akan Tiba di atas 11th Gen Desktop Platforms

Namun, alih-alih ditempelkan di badan, puluhan CPU tersebut ketahuan disimpan di antara kursi sopir dan penumpang.

Tak berhenti sampai di situ, kasus penyelundupan kembali terjadi pada 5 Juli lalu di Lok Ma Chau Control Point yang terletak di perbatasan antara mainland China dan Hong Kong.  Kala itu, petugas menemukan sekitar 2.200 unit CPU, 1.000 keping RAM, 630 unit smartphone, dan 70 buah produk kecantikan dalam sebuah truk. 

Untuk mengelabui pihak bea cukai, sang sopir menyembunyikan seluruh barang tersebut di antara tumpukan barang elektronik. Total harga ribuan barang selundupan ini diperkirakan mencapai 4 juta dolar AS (sekitar Rp 57,9 miliar).

GPU juga sempat diselundupkan

Baca juga:   Bocoran Call of Duty: Black Ops Cold War menandakan akan kembalinya Map, Raid

Seperti diketahui, kasus penyelundupan barang semikonduktor macam ini belakangan memang marak terjadi di China dan sekitarnya. Namun, alih-alih CPU, beberapa kasus yang sebelumnya menyeruak merupakan penyelundupan kartu pengolah grafis (GPU). Beberapa bulan lalu, misalnya, seorang oknum berupaya menyelundupkan puluhan kargo berisi GPU Nvidia GeForce RTX 3090 senilai 2,2 juta yuan (sekitar Rp 4,7 miliar) dari pabrik MSI di Taiwan

Ada pula oknum yang mencoba menyelundupkan sekitar 300 unit GPU lewat sebuah kapal nelayan. Pihak bea cukai memergoki aksi ini ketika kapal tersebut berlabuh di dekat Bandara Internasional Hong Kong pada pukul 2 dini hari. Diduga kuat, berbagai aksi penyelundupan GPU ini didorong oleh sulitnya mendapatkan komponen tersebut di pasaran.

Meski demikian, komponen GPU di wilayah China agaknya bakal semakin mudah dicari, seiring dengan maraknya penambang kripto yang beramai-ramai menjual GPU mereka, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TheRegister, Senin (12/7/2021). Hal ini konon dipicu oleh pemerintah China yang menutup sejumlah pusat penambangan mata uang kripto, salah satunya Bitcoin, karena dianggap tidak ramah lingkungan.

Baca juga:   GMK Bushidō Alami Fase IC Yang Sangat Lama

Karena sejumlah kegiatan penambangan ditutup, maka mereka sejatinya tak membutuhkan GPU lagi dan konon memilih untuk menjualnya. Sebagai efeknya, beberapa jenis GPU kelas atas di China pun turun harga. GPU Nvidia GeForce RTX 3060, misalnya, kini dijual dengan harga 1.760 yuan (sekitar Rp 3,9 juta), jauh lebih murah dari harga ritel yang dipatok 329 dolar AS (sekitar Rp 4,7 juta).

Sumber:kompas.com

About The Author

Related posts

Leave a Reply